Sabtu, 05 Februari 2011

mejuah-juah

1.   Penduduk asli yang mendiami wilayah Kabupaten Karo disebut Suku Bangsa Karo. Suku Bangsa Karo ini mempunyai adat istiadat yang sampai saat ini terpelihara dengan baik dan sangat mengikat bagi Suku Bangsa Karo sendiri. Suku ini terdiri dari 5 (lima) Merga, Tutur Siwaluh, dan Rakut Sitelu.
Merga Silima, yakni:
- Karo-karo
- Ginting
- Sembiring
- Tarigan
- Perangin-angin

Dari kelima Merga tersebut di atas, masih terdapat sub-sub Merga.
Merga Ginting
  1. Ajartambun
  2. Babo
  3. Beras
  4. Cabap
  5. Gurupatih
  6. Garamata
  7. Jandibata
  8. Jawak
  9. Manik
  10. Munte
  11. Pase
  12. Seragih
  13. Suka
  14. Sugihen
  15. Sinusinga
  16. Tumangger

Merga Karo-karo
  1. Barus
  2. Bukit
  3. Gurusinga
  4. Kaban
  5. Kacaribu
  6. Ketaren
  7. Kemit
  8. Jung
  9. Purba
  10. Sinulingga
  11. Sinukaban
  12. Sinubulan
  13. Sinuraya
  14. Sitepu
  15. Sinuhaji
  16. Surbakti
  17. Samura
  18. Sekali

Merga Perangin-angin
  1. Bangun
  2. Keliat
  3. Kacinambun
  4. Namohaji
  5. Nano
  6. Menjerang
  7. Uwir
  8. Pinem
  9. Pancawan
  10. Panggarun
  11. Ulun Jandi
  12. Laksa
  13. Perbesi
  14. Sukatendel
  15. Singarimbun
  16. Sinurat
  17. Sebayang
  18. Tanjung

Merga Sembiring
  1. Berahmana
  2. Busuk
  3. Depari
  4. Colia
  5. Keloko
  6. Kembaren
  7. Muham
  8. Meliala
  9. Maha
  10. Bunuaji
  11. Gurukinayan
  12. Pandia
  13. Keling
  14. Pelawi
  15. Pandebayang
  16. Sinukapur
  17. Sinulaki
  18. Sinupayung
  19. Tekang

Merga Tarigan
  1. Bondong
  2. Gana-gana
  3. Gersang
  4. Gerneng
  5. Jampang
  6. Purba
  7. Pekan
  8. Sibero
  9. Tua
  10. Tegur
  11. Tambak
  12. Tambun
  13. Silangit
  14. Tendang
Orat Tutur Merga Silima
  1. Merga Bapa, jadi merga man anak sidilaki jadi beru man anak sidiberu
  2. Beru Nande, jadi bere-bere man anak sidilaki ras anak sidiberu
  3. Bere-bere Bapa, jadi binuang man anak sidilaki ras anak sidiberu
  4. Bere-bere Nande, jadi perkempun man anak sidilaki ras anak sidiberu
  5. Bere-bere Nini (Bulang) Arah Bapa, jadi kampah man anak sidilaki ras anak sidiberu
  6. Bere-bere Nini (Bulang) Arah Nande, jadi soler man anak sidilaki ras anak sidiberu
Berdasarkan Merga ini maka tersusunlah pola kekerabatan atau yang dikenal dengan Rakut Sitelu, Tutur Siwaluh dan Perkaden-kaden Sepuluh Dua Tambah Sada.
Rakut Sitelua, yaitu:
- Senina/Sembuyak
- Kalimbubu
- Anak Beru

Tutur Siwaluh, yaitu:
- Sipemeren
- Siparibanen
- Sipengalon
- Anak Beru
- Anak Beru Menteri
- Anak Beru Singikuri
- Kalimbubu
- Puang Kalimbubu

Perkaden-kaden Sepuluh Dua:
- Nini
- Bulang
- Kempu
- Bapa
- Nande
- Anak
- Bengkila
- Bibi
- Permen
- Mama
- Mami
- Bere-bere

Dalam perkembangannya, adat Suku Bangsa Karo terbuka, dalam arti bahwa Suku Bangsa Indonesia lainnya dapat diterima menjadi Suku Bangsa Karo dengan beberapa persyaratan adat.
2.   Masyarakat Karo terkenal dengan semangat keperkasaannya dalam pergerakan merebut Kemerdekaan Indonesia, misalnya pertempuran melawan Belanda, Jepang, politik bumi hangus. Semangat patriotisme ini dapat kita lihat sekarang dengan banyaknya makam para pahlawan di Taman Makam Pahlawan di Kota Kabanjahe yang didirikan pada tahun 1950.
3.   Penduduk Kabupaten Karo adalah dinamis dan patriotis serta taqwa kepada Tuhan Yang Esa. Masyarakat Karo kuat berpegang kepada adat istiadat yang luhur, merupakan modal yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembangunan.Dalam kehidupan masyarakat Karo, idaman dan harapan (sura-sura pusuh peraten) yang ingin diwujudkan adalah pencapaian 3 (tiga) hal pokok yang disebut Tuah, Sangap, dan Mejuah-juah.
Tuah berarti menerima berkah dari Tuhan Yang Maha Esa, mendapat keturunan, banyak kawan dan sahabat, cerdas, gigih, disiplin dan menjaga kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup untuk generasi yang akan datang.
Sangap berarti mendapat rejeki, kemakmuran bagi pribadi, bagi anggota keluarga, bagi masyarakat serta bagi generasi yang akan datang.
Mejuah-juah berarti sehat sejahtera lahir batin, aman, damai, bersemangat serta keseimbangan dan keselarasan antara manusia dan manusia, antara manusia dan lingkungan, dan antara manusia dengan Tuhannya. Ketiga hal tersebut adalah merupakan satu kesatuan yang bulat yang tidak dapat dipisah-pisahkan satu sama lain.
Terakhir diperbaharui Jumat, 30 Juli 2010 16:05